Filosofi Garam

Esai

Ketika kita membeli garam di pasar biasanya berbentuk kotak-kotak seukuran satu kepal anak kecil. Ada juga yang sudah berbentuk serbuk seperti gula pasir. Namun bukan bentuk yang ingin saya bahas, melainkan rasa garam itu sendiri. Pastinya asin kan?dalam bahasa Jawa itu “lethek”. Dimanapun yang namanya garam pasti rasanya sama. Bisa dibayangkan jika masakan tanpa garam yang pasti hambar rasanya kan? 
Garam dalam masakan itu bentuknya tidak terlihat, tetapi sangat mempengarui rasa makanan.
Begitupun orang Jawa pada masa Wali Songo meskipun sudah memeluk Islam paling malas cuci kaki. Karena masih kental dengan tradisi agama yang mereka anut sebelumnya. Bahkan, masuk ke masjid pun tetap masih kotor. Sunan Kudus memikirkan cara agar mereka mau mencuci kakinya saat ingin memasuki masjid. Dibuatlah di jalan masuk ke masjid “Jeding Kobok.” yaitu tempat wudhu yang didesain siapapun yang ingin wudhu, kaki terpaksa harus dicelupkan kedalam air setinggi mata kaki itu. Dengan berawal dari hal ini, tanpa sadar mereka akhirnya bisa membiasakan diri membersihkan kaki. 
Baca juga:

Inilah cara yang digunakan oleh wali songo dengan mengambil filosofi garam. Bukan hanya simbol yang ingin diperlihatkan namun bagaimana agar esensi/nilai yang baik itu bisa dijalankan di masyarakat. Jika sekarang banyak masjid/mushola di desa/kota yang menggunakan Jeding Kobok sebenarnya itu adalah warisan dari pada ulama dulu. 
Sebenarnya kalau lebih dalam lagi pesan yang ingin disampaikan para ulama dulu dalam berdakwah adalah dengan metode yang ramah bukan dengan cara marah. Sehingga dalam tataran masyarakat tidak menimbulkan konflik yang berkepanjangan dan dakwah bisa diterima dengan hati legowo.