Endang Witarsa, Sang Legenda Sepak Bola Indonesia Asli Kebumen

Tokoh


Endang Witarsa bisa dikatakan nama yang masih asing di telinga kita dalam dunia persepakbolaan nasional, apalagi di zaman milenial ini. Jika hari ini ada Bambang Pamungkas, Widodo C. Putra, Rocky dan kawan-kawan yang lebih dikenal sebagai legenda sepak bola Indonesia, ternyata Kebumen pun pernah melahirkan legenda sepak bola  nasional yang tidak kalah terkenalnya pada masanya.


Sumber foto www.indosport.com

Jejak Langkah Sang Legenda

Endang Witarsa atau yang kerap disapa Opa Endang (Mbah Endang) lahir di Kebumen pada tanggal 4 Oktober  1916 dengan nama Liem Soen Joe adalah putra bungsu dari Sembilan bersaudara. Setelah menyelesaikan pendidikannya di MULO dan HBS di Kebumen, Mbah Endang muda sempat bimbang dihadapkan pada pilihan antara STOVIA Jakarta satau STOVIA Surabaya utntuk kuliah kedokteran gigi. Pada tahun 1941, setelah meraih gelar dokter gigi, beliau menikahi rekan sekelasnya, Kartika Sulindro, yang berusia dua tahun lebih tua.

Mbah Endang mengawali karier sebagai pemain sepakbola dengan bergabung klub di Kebumen tempat asalnya. Saat di Malng, Mbah Endang sempat mencicipi rasanya menjadi pemain Persema Malang. Belum begitu lama di Malang, beliau pindah ke Jakarta karena tugas dan menjadi pemain klub UMS (Union Makes Strength) 80 Jakarta pada tahun 1948 sebagai gelandang.


Pada 1951, setelah gantung sepatu, karier gemilangnya sebagai pelatih pun dimulai dengan klub pertamanya yaitu UMS. Sepuluh tahun kemudian beliau melatih klub Macan Kemayoran, Persija Jakarta. Sampai tahun 1966. Dibawah asuhan dan polesannya berbuah prestasi besar yakni membawa Persija Jakarta menjuarai Perserikatan 1964 dengan PSM Makasar sebagai runner-up.

Kiprah panjang nan sukses sebagai pelatih tim nasional berawal dari tim PSSI  Junior pada tahun 1965. Selama tiga tahun, dari tahun 1967 sampai 1970, terjadi rangkap tugas yakni melatih tim nasional Junior dan Senior sekaligus. Setelah itu, focus dan perhatiannya hanya untuk tim nasional Senior saja. Pengabdiannya di timnas Senior baru paripurna pada tahun 1980. Selama kurang lebih 13 tahun kepemimpinannya, tim nasional menjuarai sejumlah event internasional. Diantaranya yakni juara Aga Khan Cup di Dacca, Pakistan (1967), Merdeka Games di Kuala Lumpur (1969), King Cup di Bangkok Thailand 1970, Anniversary Cup III di Jakarta 1972, Pesta Sukandi Singapura (1972), dan President Cup di Korea (1973).

Endang Witarsa tidak hanya melahirkan sederet prestasi bagi timnas, tetapi juga melahirkan puluhan pemain bagus yang jadi pilar penting tim nasional decade 1960-an sampai 1990-an. Berikut adalah nama besar tanah air yang pernah ditanganinya, seperti Anwar Ujang, Djamiat Dalhar, Thio Him Tjiang, Peng Hong, Kwi Kiat Sek, Bambang Sunarto, Yuswardi, Surya Lesamana, Yusak Susanto, Widodo C. Putra, Benny Dollo dll.


Pengabdian panjangnya pada sepak bola berbuahh dua penghargaan sekaligus dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai pelatih terlama (55 tahun) dan tertua (90 tahun), 21 Januari 2007 silam. Mbah Endang juga mendapat penghargaan Lifetime Achievement Award versi Antv Sport Award (ASA) dll.


Kehadirannya ke ajang Bintang Emas Copa Dji Sam SoeIndonesia 2007 di hotel Mulia, Jakarta adalah bukti sahih tentang perhatiannya pada perkembangan sepak bola Indonesia. Beliau pun menyampaikan pean kepada para pemain sepak bola Indonesia “Saya harap pemain sekarang lebih kuat main bolanya. Jangan hanya plesiran. Main bola…main bola…main bola.”


Beliau meninggal dunia di Rumah Sakit Pluit, Jakarta, pada hari Rabu, 2 April 2008, setelah dirawat selama tiga pekan.  Dunia sepak bola Indonesia pun kehilangan salah satu putra terbaiknya.

Kita pun merasakan sebuah kehilangan besar, ditinggalkan oleh tokoh yang tanpa publisitas berlebih telah megisi urat nadi persepakbolaan nasional. Sosok yang lahir dari sepak bola, hidup untuk sepakbola, dam meninggal demi sepakbola.