Caleg di Kebumen Bertebaran, Tanpa Pernah di Uji Kualitasnya

Esai


Oke ges! Ditahun politik tentu banyak sekali calon legislatif yang mengkampanyekan dirinya untuk bisa duduk di kursi panas DPR, entah di DPRD, DPR tingkat Provinsi, atau DPR RI sesuai dengan yang diinginkan. 

Menurut Tigongdoso.com pengertian caleg adalah seseorang yang sudah lama berdiri  sendiri (jomblo) karena kecapean berdiri terus dan ingin duduk di kursi DPR. Untuk bisa segera duduk di kursi tersebut, tentu ada beberapa cara yang harus dilakukan salah satunya adalah dengan cara berkampanye. Tujuan berkampanye tentu untuk menarik suara tuan rumah (rakyat) untuk mempersilahkan duduk di rumahnya. 

Salah satu tugas DPR adalah menyusun program, merancangan undang-undang, menyusun anggaran, menyerap sekaligus menghimpun aspirasi rakyat dan masih banyak lainnya. Secara otomatis seorang caleg juga harus paham dengan tugas dan wewenangnya ketika lolos menjadi wakil rakyat. Yang menjadi aneh bin ajaib  ketika DPR tidak paham dengan tugas dan wewenangnya. Maka Gus Dur pun pernah melontarkan ke DPR bahwa “DPR tidak ada bedanya dengan taman kanak-kanak”, rapat paripurna pada gontok-gontokan tentu peristiwa itu sangat memalukan. Sangat miris pula jika wakil rakyat krisis dalam beretika, karena negara Indonesia adalah negara demokrasi yang mengedepankan musyawarah mufakat. 

Menurut data Komisi Pemilihan Umum Kebumen ada 523 calon anggota legislatif  yang akan bertarung untuk merebutkan 50 kursi panas di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Kebumen. Jumlah yang demikian tentu sangat banyak. Harapannya dari ke 523 peserta calon legislatif terpilih 50 calon yang terbaik.  Aamiin.

Persyaratan untuk nyaleg yang ditentukan oleh Komisi Pemilihan Umum  pada tahun 2019 terdapat pada  pasal  7, dalam pasal itu hanya bersifat administratif, sehingga kualitas  calon legislatif tidak pernah teruji. Siapapun boleh mendaftar asal kelengkapan administrasinya lengkap.
Menurut saya Komisi Pemilihan Umum perlu menambah persyaratan sebelum caleg  mendaftarkan diri khususnya di wilayah Kebumen.

Persyaratannya adalah:
Datang Ke Kampus Untuk Mendebat Mahasiswa. Misal, kita mau buat Surat Ijin Mengemudi (SIM) aja diuji, disuruh mengendarai motor atau mobil oleh petugas. Jadi, kemampuan dalam mengendarai kendaraan tentu akan terlihat. Begitupun dengan DPR akan terlihat sejauh mana wawasan ilmunya. Kalau caleg bisa menjawab pertanyaan mahasiswa dengan baik, apresiasi dengan mengacungkan 4 jempol. hehe.

Paham Tentang Kondisi Daerahnya. Persyaratan ini mutlak. Bagaimana bisa memimpin jika tidak paham dengan kondisi  wilayahnya. Misalkan, berapa jumlah janda di Kebumen, jomblo berapa. Baru  setelah itu Dewan Perwakilan Rakyat menampung aspirasi dari para jomblo. Jomblo pun akan  bahagia. Asyekk.

Kampanye Menggunakan Bahasa Ngapak. Ini juga persyaratan yang tidak kalah penting, mengapa? Karena ngapak adalah logat bahasa khas Kebumen, agar kampanye lebih santai  dan tidak tegang. Maka perlunya seluruh caleg menggunakan bahasa ngapak dalam berkampanye. Ora ngapak, ora kepenak.

Pernah Makan Lanthing dan Cimplung. Sangat wagu sekali jika caleg di Kebumen belum pernah makan lanthing. Mungkin ini bisa dijadikan sebagai persyaratan utama sebelum nyaleg. Caleg diminta untuk mengecek kesehatan dan melampirkan bukti tes laboratorium pernah memakan lanthing dan cimplung. Bagaimana pemimpin mau cinta dengan wilayahnya kalau lanthing pun belum pernah nyicipi?

Dengan demikian masyarakat Kebumen akan lebih mantap untuk memilih para calon anggota legislatif, tidak hanya program yang ditawarkan namun yang lebih penting adalah realisasinya. Itulah unek-unek dari saya, semoga KPU Kebumen kedepan bisa menggeolkan harapan saya. Jangan lupa ngopi dulu Lur!

(Tigongdoso)