Bukannya Tak Peka, Tetapi Karena Cinta

Esai

Perihal percintaan kaum adam dan hawa memang seakan tak pernah habis untuk dibahas dan digali. Cinta adalah potret kehidupan yang menarik untuk diulik dan dibahas diberbagai kalangan, tidak mengenal umur. Buktinya, FTV dan sinetron yang mengambil sudut pandang percintaan laku keras dikalangan remaja dan ibu-ibu. Jadi tak heran jika kaum bucin kian subur di negeri ini.
Kisah pertemuan antara laki-laki dan perempuan, yang selanjutnya saling jatuh cinta dan diakhiri dengan ikatan pernikahan selalu menarik untuk diulik.

Sama halnya dengan Agus, begitu sapaanya. Bedanya, Agus belum menikah. Dia sedang menjalin proses percintaanya. Agus pria yang sedang kesemsem pada wanita pujaan hatinya. Orangnya sedikit kucin (kurang cinta) tidak begitu ahli dalam urusan percintaan. Kepada cewe saja takut, apalagi hanya untuk menatap matanya beberapa detik, tak kuasa. Walau begitu Agus termasuk lelaki yang setia, bisa dibilang mampu memegang komitmen kepada pasangannya. Cuma yang kurang dari Agus adalah  kepekaanya kepada wanita minim bisa dikatakan model pacaran Agus kuno.


baca juga: Surat Cinta dari Sang “Mantan”


Seharusnya berpacaran kan mengikuti zaman. Misal, makan bareng di kafe lantai 10 yang mewah, setiap berpergian makan bareng, jalan-jalannya ke mall dan nonton film di bioskop. Begitulah kiranya berpacaran di era milenial seperti sekarang ini. Lah Agus, pacaran hanya whatsApp-an kalau pas lagi mempeng ya Video Call-an, hanya seperti itu tak pernah sekalipun ngajak jalan-jalan, boro-boro ke mall. Duh Agus memang. Padahal untuk sekedar mengajak pacarnya nonton film di bioskop atau makan di kafe si Agus cukup mampu untuk mentraktirnya, kalau pas dompet kering yah minimal ke warung “Pecel Lele” kan sudah agak gaul dikit lah. Wanita itu kan harus dimanja, diperhatikan selalu ditanyain kapan pun itu.


Contohnya begini nih bentuk perhatian cowo ke cewe.

Cowo:”Sudah makan belum Dek?”
Cewe: “Sudah Mas?”
Cowo: “Pakai apa Dek? Daging ayam apa daging Singa?”
Cewe: “Singa Mas”.
Cowo: “Ya syukurlah. Kirain belum, tadinya mau saya ajak makan di kafe Dek. Berhubung sudah makan, ya sudah lah gak jadi.”
Cewe: “Tadi itu salah ketik Mas, terkadang aku memang sering typo gitu.hehe. Ayuh berangkat!.”
Cowo: “Oke lah kalau begitu” sambil mengernyitkan dahi.
Begitulah salah satu cara untuk membahagiakan pasangan, dengan hal-hal yang sederhana sekali pun kebahagiaan bisa di dapat.

baca juga: Jalan Singkat Menuju Terluka


Jadi betul-betul perlu diperhatikan minimal dengan chat sederhana itu. Karena wanita tercipta dari tulang rusuk pria. Maka untuk itu kehendakilah wanita dengan baik. Begitu spesialnya wanita sehingga banyak lagu yang berisi tentang bagaimana cara memperlakukannya. Benar, wanita sangat ingin dimengerti, coba kaum pria mengertilah…


Atau mungkin karena Agus mengikuti dan mengilhami dawuhnya Cak Nun, sehingga ia lebih berhati-hati soal berpacaran.


“Sebenarnya lebih bagus kalau kita tidak pernah bertemu secara fisik, tapi kita punya khayalan secara rohaniah. Jadi kalau engkau cinta kepada seorang wanita, seorang gadis maka peliharalah cintamu itu dalam rohmu dan jangan pernah datang ke dia, apalahi sampai memandang wajahnya. Supaya tidak terkotori oleh kelakuan-kelakuan duniawi. Sehingga kelak akan menjadi istrimu di surga” kurang lebih begitulah dhawuh Cak Nun.


baca juga: Enaknya Punya Guru Killer


Saya sebagai temannya terkadang bingung gimana caranya mengubah cara berfikir Agus, agar mulai memperhatikan cara-cara romantis dalam berpacaran.


Menjadi seorang lelaki memposisikan cinta memang agak rumit. Jika pria menganggap bahwa wanitalah yang lebih susah dan repot, menurutku tidak. Sejatinya sama-sama repot, karena cinta berbicara dua insan, keduanya sepantasnya saling pengertian.


Begitulah Gus…pacaran jangan katro gitu napa. Semoga Agus membaca saranku ini…..wkwk.