Bob Sadino: Semoga Saya Masuk Neraka

Tokoh

Bob Sadino saat bertemu dengan Soeharto Presiden RI (sumber gambar)

Sekitar satu tahun yang lalu saya dikasih sebuah buku biorgrafi Bob Sadino oleh teman saya namanya Mas Sofyan. Sangat senang sekali dikasih buku apalagi gratisan, karena Mas Sofyan tahu kalau saya suka mengoleksi buku tapi ogah baca. Biasa lah, sok-sokan jadi kutu buku, padahal untuk soal membaca jarang sampai khatam.hehe.

Oke, saya akan membahas salah satu tokoh yang fenomenal yaitu Bob Sadino. Berpenampilan eksentrik dengan kemeja dan celana pendek jeans kesukaanya. Bahkan pernah, Bob Sadino dengan santai mengenakan celana pendek jeans andalanya saat berhadapan langsung dengan Soeharto yang kala itu sebagai Presiden RI.

Gaya bicaranya juga nyeleneh, ceplas-ceplos, segeleme dewek yang tidak jarang menimbulkan kontroversial. Jika dikalangan tokoh Islam kita punya Gus Dur yang kontroversial, kalau dunia pengusaha tentulah Bob Sadino.


Bob, seorang ikon wiraswastawan tersohor yang pernah hidup di negeri ini. Kelahiran Tanjung Karang, Lampung, 9 Maret 1933. Bob Sadino memiliki nama lengkap Bambang Mustari Sadino. Namanya begitu wangi, tak hanya di pegiat bisnis Indonesia, tetapi juga pejabat tinggi, politisi, selebritas, pemimpin negara dan tidak ketinggalan di seluruh anak buahnya di sejumlah perusahaan miliknya.

Kepiawaian Bob dalam bergaul, memang membuat dirinya dikenal oleh berbagai lapisan, tak pandang usia maupun strata sosial. Bagi yang tak mengenal langsung Bob Sadino, setidaknya pernah mendengar sepak terjang maestro di dunia kewirausahaan, minimal sebagai daftar orang terkaya di Indonesia.

Selain dikenalnya sebagai orang yang sukses, ucapan pedas, kritik tajam, sebutan goblok, sinis, juga melekat pada diri Bob. Tidak sedikit sebagian orang menganggap bahwa Bob gila!

Padahal, jika mampu menyelami pemikiran Bob lebih dalam, siapapun akan menemukan dirinya sebagai sosok filosofis, bijaksana, bahkan religius. Siapa sangka dibalik tindak-tanduknya yang kerap dianggap  aneh, dia memiliki alasan yang cukup mendasar terkait statemennya.

Kalau berbicara tentang Gus Dur semua orang tidak meragukan tingkat religiusitasnya, selain cucu dari pendiri Nahdlatul Ulama yaitu KH. Hasyim Asy’ari yang berangkat dari pondok pesantren, juga pernah menjabat sebagai ketua PBNU selama tiga periode. 

Begitu pula dengan Bob, sapaan akrab Bob Sadino. Tak banyak orang yang tahu, bagaimana kehidupan spiritual Bob Sadino. Dengan gayanya yang asal dan nyentrik, mungkin orang akan menduga bahwa Bob tak mempunyai kehidupan religi yang baik.

Tentu anggapan itu boleh saja benar ataupun sebaliknya. Karena untuk urusan spiritual itu bukan wilayah manusia yang menentukan benar atau tidaknya, melainkan itu hak prerogatif Alloh yang tahu. Namun sebagai manusia tentu punya pandangan dan penilaian tentang indikator-indikator religiusitas seseorang yang bisa dilihat minimal sekali dari penampilan, perkataan dan perbuatan.

Pernah suatu acara yang kebetulan Bob menjadi bintang tamunya bersamaan dengan Rhoma Irama. Rhoma bertanya kepada Bob “Apa doa Bob setiap hari?” Dengan santai Bob menjawab, “Kalau orang lain berdoa minta masuk surge, maka saya setiap hari berdoa kepada Tuhan semoga saya masuk neraka!” Sontak Rhoma berulang kali mengucap, “Astaghfirulloh… Astaghfirulloh… Astaghfirulloh…”.

Mendengar jawaban tersebut, Rhoma Irama kaget bukan kepalang. Dia bahkan hampir melompat dari kursinya. Tak disangka, ’Raja Dangdut’ ini akan mendapat jawaban luar biasa yang terkesan angkuh. Bagaimana mungkin seorang anak akan manusia berani meminta masuk neraka pada Tuhannya? Tidak masuk akal!

Namun bila diselami lebih dalam, Anda akan mengerti mengapa Bob Sadino menjawab demikian. “Saya menyadari sudah berlumuran banyak dosa. Makanya saya malu sama Tuhan kalau meminta masuk surga” ungkap Bob. Membuat siapa pun yang mendengarnya, langsung terdiam seribu bahasa.

“Daripada Anda yang sudah tahu banyak dosa, tetapi tetap ngotot mau masuk surga. Apa tidak malu sama Tuhan? Terus berbuat dosa dan maksiat, tapi tetap meminta masuk surga. Mending saya dong”. Sambungnya. Diakui atau tidak, alasan Bob sangat masuk akal. Siapa pun yang menyimak akan merasa keliru dan mulai intropeksi. Dikutip dari buku yang berjudul “Bob Sadino, Goblok Pangkal Kaya”.

Misal, jika saat Anda berpergian ke suatu pasar dan berjumpa dengan seseorang pria bertato bunga mawar dilengannya, lantas apakah pria tersebut suka dengan bunga mawar? Apakah pria bertato itu seorang preman, yang jauh dari norma-norma agama? Jika kita memandang dari sisi lahiriah pertanyaan itu mungkin saja benar. Mungkin juga berbeda jika beranggapan dengan cara substansial.

Bangsa Indonesia saya rasa saat ini perlu belajar minimal dengan kedua tokoh ini. Ditengah suhu politik yang kian memanas perlunya meneladani sosok yang mampu memberikan keseimbangan dalam memandang diri seseorang. Jika hanya urusan berbeda pandangan politik saja hubungan pacar bisa retak, apalagi jika dibawa ke kehidupan bermasyarakat bisa-bisa konflik itu merambah ke calon besan. Nah ini yang repot. Alangkah baiknya jika kita mengedepankan isi bukan bungkus. Mengedepankan apa yang disampaikan, bukan siapa yang menyampaikan. Karena bungkus itu mudah di temukan, di pasar, di warung di tempat sampah. Contohnya bungkus plastik.