Beberapa Alasan, Mengapa Saya Harus Menulis!

Esai

Tidak ada hubungannya foto di atas dengan tulisanku. Saking bingungnya memilih foto yang pas untuk disandingkan dengan tulisanku ini, akhirnya foto di atas pun sebagai pelampiasan. Foto tersebut sangat kurang beradab, jadi plis kepada pembaca yang budiman untuk tidak meniru adegan tersebut. Mengapa? Saya kasih bocoran ya. Soalnya, yang pegang Clapper Board itu adalah guru saya, namanya Bapak Ahmad Shodikun. Saya suruh untuk akting dan memegang benda tersebut.hehe. Jahat bukan…

Oke, sekitar bulan Desember tahun 2018 saya mulai aktif menulis diblog ini. Yah, walaupun tulisanku masih jelek-jelek gini (unfaedah), kaidah penulisannya saja masih nggrambyang. Jika ditelisik dengan ilmu jurnalistik tentu masih banyak ditemukan kesalahan sana-sini. Padahal saya mahasiswa bahasa Indonesia, apalagi sekarang sudah menginjak semester enam.

Sebelum saya menulis di blog ini, saya sudah mengawali menulis sekitar tahun 2015 dengan konsentrasi konten desain grafis. Karena waktu itu lagi seneng-senengnya ndesain, buat tutorial dll. Namun sekarang ini sudah mulai saya tinggalkan, karena proses membuat tutorial desain itu lumayan membutuhkan waktu yang lama. Prosesnya; kita harus mempraktekan langsung di aplikasi, screenshot, menulis dan menampilkan hasil editanya. Begitulah rumitnya buat turorial desain.

baca juga: Sensasi Menjadi Tukang Nderep

Membuat Blog
Pertama kali saya buat  blog gratisan. Url-nya masih dibuntuti blogspot.com. Kalau sekarang kan sudah dot.com jadi terlihat lebih keren dikit.hehe. Saya membuat blog ini dengan biaya yang cukup murah yaitu kisaran dua ratus ribuan. Itu sudah termasuk beli domain bonus dengan desainnya. Praktis, saya belum tahu menahu tentang blogger, paling hanya memposting konten sudah gitu-gitu aja. Pokoknya masih bloon di blogger, sekarang si udah mendingan berkat Mas Anjar, yang bersusah payah ngajarin ngedit blogger. Setelah dikasih tahu ilmu dasar blogger saya pun memberanikan diri mengganti template, menambahkan submenu, mengatur postingan agar terdeteksi google, sampai langkah adsense saya lakukan sendiri. Itu otodidak ditambah cari tutorial di internet dan youtube. Yah lumrah lah, saya SMK jurusannya Teknik Otomotif jadi tak ada modal sedikit pun terkait blog.

Saya tidak tahu mengapa saat itu saya membuat blog. Kenapa tidak ke youtube padahal kan sekarang lagi tenarnya buat video. Penghasilan dari youtube pun sangat menggiurkan bisa sampai jutaan sampai ratusan juta. Padahal lewat blog kan jarang orang terus kaya. Yah, paling yang dibilang sukses berkat blognya seperti Agus Mulyadi yang sekarang menjadi pimpinan redaksi Mojok.co, ada lagi Raditya Dika itu pun semakin di kenal karena sering buat film dan di youtube. Jadi, tak pernah terlintas saat itu membuat blog tujuan utamanya agar kaya, kalo terkenal sih pengen. Haha……

Sebagian dari kita memang ada yang ingin membuat blog tapi belum bisa terwujud. Hal ini terutama karena belum menemukan alasan yang kuat. Mengapa dan apa tujuan kita membuat blog itu sendiri ternyata dapat memberikan semacam motivasi yang kuat untuk segera membuat blog.
Namun ada beberapa hal yang mendasari mengapa saya terjun di blog. Salah satunya sebagai sarana belajar menulis. Kalau ini memang tujuan pertamaku, semua orang disekililingku tahu saya mahasiswa jurusan Bahasa Indonesai, pendidikan lagi. Orang mengira saya itu pasti bisa menulis, tahu tentang linguistik, fonologi, dan lain sebagainya mbuh saya lupa.hehe. Beban moral menjadi mahasiswa bahasa Indonesia itu berat apalagi kalau sudah mengajar, uh. Padahal, belum tentu demikian. Jadi, kalau punya blog kan yah, sedikit portofolio kita bisa diperlihatkan ke orang lain.

baca juga: Jalan Singkat Menuju Terluka

Mengirim Tulisan di Media Online
Setelah beberapa kali menulis di blog, akhirnya saya memberanikan diri untuk menulis naskah esai dan saya kirimkan ke media online nasional. Saya merasa percaya diri betul bahwa tulisan saya pasti ditolak.wkwk. Tulisan yang saya tulis saat itu esai ringan tentang ‘kuliah namun salah jurusan’ yang bersumber dari pengalamanku. Namun kenyataannya yang saya tulis pada waktu itu sudah beda cerita dengan kondisi saat ini. Jadi, saya menulis berawal dari kegaulan hati. Benar kata Gus Dur; orang yang belum pernah sakit hati pasti sastranya jelek (tulisannya). Masuk akal juga, ketika seseorang mengalami kegundahan hati ketika perasaan itu dituangkan dalam sebuah lembar kosong, kisahnya akan lebih menarik untuk dibaca.

Tiga kali saya mengirim tulisan di Mojok.co belum pernah tembus. Yang membuat geli balasan dari redaktur, kurang lebih demikian “Mas Trio yang baik… Sebelumnya, kami ucapkan terima kasih atas kesediaanya mengirim naskah ke Mojok. Artikel Anda sudah kami terima dengan selamat tanpa kurang suatu apapun. Kami mohon maaf, artikel Anda belum bisa kami muat… Namun begitu, kami sangat berterima kasih atas kesediaan Anda mengirim tulisan untuk Mojok. Dan kami tunggu naskah-naskah Anda lainnya. Terima kasih  :)”. 


Saya tidak kecewa sama sekali karena ditolak, plus dengan jawaban yang sama (copas), sebab saya sedikit tahu standarisasi dari media online tersebut. Saya anggap proses ini sebagai bahan percobaan mengirim tulisan sekaligus bahan koreksi dalam menulis untuk lebih baik. Di sisi lain juga ada hikmahnya. Setelah saya tahu tulisanku belum bisa dimuat, saya tetap beruntung dengan keberadaan blog saya ini bisa menampung tulisan-tulisanku yang receh an.hehe.

Beberapa kali saya mendengar cerita orang untuk mengedem-demi hati, “jangan pernah kapok mengirim tulisan ke media cetak atau online nasional, bisa jadi tulisan yang ke sepuluhmu itu yang diterima. Jadi, teruslah menulis!”. Ada benernya juga sih, berarti saya harus mengirim tujuh naskah lagi dong ya agar bisa tembus.hee

baca juga:Surat Cinta dari Sang “Mantan”

Imam Al Ghozali pernah menulis “Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis”. Menurut saya kalimat yang disampaikan oleh Imam Al Ghozali itu bukan hanya sebuah kalimat yang berkaitan dengan status kedudukan, melainkan motivasi yang mendalam untuk mendidik generasi penerus melestarikan dan mengarsirpkan sejarah. Karena sejarah masa lalu bisa kita ingat sampai sekarang ini berkat tulisan. Dasyat bukan?

Romantika Menulis
Pergolakan hati yang dalam terkadang muncul ketika hendak menulis, sangat sering saya rasakan. Pertama, saat godaan setaannn terkutuk mulai menggangu, mencoba merayu agar mood menulis turun. Dengan alasan, tulisan yang beberapa saya posting hanya sedikit yang membaca. “Sudahlah, ngapain sih nulis-nulis gitu, nggak guna! Yang baca cuma sedikit, ngapain coba…!” itulah contoh rayuan setannnn. Kalau dalam kondisi yang seperti ini biasannya saya tinggal tidur sejenak, saya kecoh setannya agar istirahat juga. Setelah kondisi hati aman, barulah melanjutkan menulis. hehe.

Kedua, mau menulis apa? Dari mana? Kalimat apa dulu yang enak untuk ditulis? Itulah yang sering melintas dipikiranku. Sepertinya sih tidak hanya penulis pemula seperti saya, penulis profesional pun saya rasa mengalami hal yang demikian. Apalagi bagi yang belum pernah menulis. Ditengah kebingungan itu pun saya mulai mencari referensi tulisan, menulis kerangka tulisan dan dikembangkan.

baca juga: Santri Itu Makhluk Yang Aneh, Walaupun Nakal Tetapi Serba Bisa

Man-teman, saya tidak bermaksud menggurui ya. Saya hanya ingin berbagi pengalaman saja. Barangkali dari teman-teman juga ada yang ingin belajar menulis, silahkan kirim saja ke www.tigongdoso.com. Blog saya ini demokratis ko, siapa saja bisa menulis di sini yang terpenting bukan sara. Saya berharap teman-teman bisa bergabung dan menulis sejarah yang manis di blog ini. Kalau pun tidak, teman-teman juga bisa belajar buat blog sendiri…yang terpenting menulislah.heee