Antara Marbot dan Anak Kyai

Cerpen

Kyai Salim sudah lama tergolek di RSNU, tubuh yang dulu sehat kini harus bertahan melawan penyakit stroke yang dideritanya. Gara-gara penyakitnya ini, Kyai Salim masuk dan keluar rumah sakit, aktivitas dakwahnya terganggu sudah hampir lima tahun terkahir karena penyakitnya ini. Penyakitnya pun memaksakan dirinya mengambil keputusan untuk sebisa mungkin segera menikahkan anak gadis kesayangan.

Perihal permintaan itu, sudah disanggupi oleh Aini, namun masalah siapa yang menikahinya masih menjadi hambatan. Aini ingin menikah dengan Sapto, orang yang ia cintai sudah sejak lama. Sebenarnya Kyai Salim cocok sajah dengan Sapto, namun kalau bisa dapat yang lebih sempurna kenapa tidak? Begitu juga dengan Bu Nyai Mirah Ibunda Aini.

“Kamu harus menikah tahun ini ya nak! Kalau bisa bulan Dzulhijjah ini” pinta Nyai Mirah. “Nggih Bu…. Tapi tetep pilihan saya jatuh pada Mas Sapto Bu,” Jawab Aini. “Kamu nggak mempertimbangkan yang lain Aini? Pernikahan mu adalah gerbang untuk meneruskan perjuangan dakwah bapakmu” bujuk Bu Nyai Mirah. “Apakah Sapto bukan orang baik Bu? Bukan yang akan meneruskan perjuangan Abah?” Tanya Aini. “Sapto bukanlah orang jahat, profesi nya sebagai Marbot Masjid sudah sangat membantu abahmu dalam berdakwah, namun untuk mengurusi jamaah, kamu butuh dari sekedar Marbot Masjid” kata Bu Nyai Mirah dengan agak memaksa.

Usut punya usut, ternyata Bu Nyai Mirah sudah mempersiapkan calon untuk Aini. Gus Usman, sebenarnya nama yang tak asing bagi Aini karena sudah bersama-sama aktif di IPNU-IPPNU, dan juga Sapto yang sering ikut terlibat dalam kegiatan tersebut. Gus Usman ini adalah putra Kyai Soleh rekan perjuangan Kyai Salim dari mulai nyantri, jadi IPNU, Ansor sampai akhirnya sama – sama jadi pengurus NU, begitu juga dengan Nyai Lasmi yang juga rekanita seperjuangan Bu Nyai Mirah.

“Gimana kesehatan Kyai Salim Bu ?” Tanya Kyai Soleh. “Sudah pulang Pak Kyai, tapi ya gitu hanya bisa berbaring dan aktivitasnya dibantu kursi roda, paling beberapa mingu lagi masuk rumah sakit lagi” jawab Nyai Mirah dengan lesu. “Eh …. Nyai, gimana rencana kita menikahkan putraku dengan si Aini putri mu satu – satunya?” Tanya Nyai Lasmi. “Nah itu Nyai …. Saya kesini juga ingin membahas hal itu, tapi Aini sendiri masih kekeh maunya sama si Sapto” Jawab Nyai Mirah. “Iya ini sudah waktunya, apalagi Aini itu anak semata wayang, dan perjuangan dakwah Kyai Salim harus diteruskan, kasian nanti jamaah tidak ada yang ngurus” Jawab Kyai Soleh. “Saya yakin si Usman sudah siap, tahun ini baru sajah lolos CPNS, besok mau Latsar di Semarang, insyaAllah bisa membantu dakwah lahir batin” Ujar Kyai Soleh. “Nanti kami biar sama anak kami yang nomer tiga Nyai, …. Yang sedang kuliah sambil mondok di Jogja, anakku yang pertama sudah berumah tangga, rumahnya depan masjid ini masih sangat membantu dakwah kami, apalagi ketambahan menantu jadi tambah ramai” pungkas Nyai Lasmi.

Kabar perjodohan Aini dan Gus Usman semakin santer terdengar. Hal ini membuat hati Aini dan Sapto gundah gulana. Sebenarnya Gus Usman juga tidak begitu setuju dengan perjodohan ini, karena Sapto adalah rekan nya dalam berjuang di IPNU, namun untuk bukti tahdzim kepada orangtuanya dan sebagai wujud cintanya kepada Kyai Salim maka ia harus menerima perjodohan ini. Mendengar sainganya adalah Gus Usman, Sapto berniat mengundurkan diri dari persaingan jodoh ini. Hal ini dilakukan karena takut menyakiti hati Gus Usman, rekan perjuangannya di IPNU, dan juga tidak mau menyakiti hati Bu Nyai Mirah, karena baginya keberlangsungan dakwah adalah prioritas, jodoh bisa dicari lagi nanti. Namun, cintanya kepada Aini sudah sampai ke sumsum tulang, hal inilah yang menjadikan Sapto semakin dilema.

“Aku mundur sajah dek, aku ndak enak dengan keluarga mu, dan keluarga Gus Usman” ujar Sapto. “Kang ……. Mana janjimu yang dulu? Katanya kamu takut aku ninggalin kamu, karena aku anak Kyai, tapi setelah kaya gini kenapa kamu yang mau ninggalin aku?” Seru Aini dengan kecewa. “Tapi dek …. Dakwah bapakmu harus diteruskan, siapa nanti yang ngurus jama’ah, sedangkan ilmuku tidak cukup untuk mengurus jama’ah” ujar Sapto. “Mana tanggungjawab mu mas? …. Mana komitmenmu? Sudah kuperjuangakan cinta kita, tapi apa yang kamu lakukan? Kamu mundur, mau mundur dibabak terkahir ?” Seru Aini dengan mata berkaca-kaca. “Tapi dek …. Siapa yang nanti meneruskan dakwah bapakmu ? Yang penting saat ini adalah mencari siapa yang mau meneruskan dakwah bapakmu …. Bukan melayani egoku yang cinta padamu” jawab Sapto dengan kesal.

Penyakit Kyai Salim semakin parah, namun Aini juga tidak segera memberi keputusan sepakat menikah dengan Gus Usman. Ketika keluarga sudah sepakat Aini masih mencoba memperjuangkan cintanya dengan Sapto. Sebagai kader IPPNU urusan komitmen dengan Sapto sudah tidak bisa diragukan, Sapto lah yang menemaninya berjuangan selama ini Mekar seribu bunga di taman, Mekar cintaku pada ikatan mungkin itu yang juga dirasakan oleh Aini ketika bunga dihatinya mekar dan ditujukan kepada Sapto. Sedangkan Gus Usman hanya bisa menunggu, ketika dia harus menikah dengan Aini ya harus siap, untuk meneruskan dakwah, namun disisi lain dia juga tidak mau melukai Aini, dan Sapto sahabatnya. Sementara itu Kyai Salim mulai parah penyakitnya dengan sering keluar masuk rumah sakit.

Sakitnya Kyai Salim membuat Madin yang selama ini ramai menjadi sepi. Masjid dan jama’ah nya pun mulai terbengkalai, begitu juga dengan tugasnya di NU semakin tidak tersentuh. Pengobatan yang mahal membuat keluarga Kyai Salim kesulitan keuangan. Saat parah seperti inilah, tidak ada yang lain yang bisa diharapkan Kyai Salim kecuali menyaksikan anak semata wayangnya menikah, entah dengan Sapto ataupun dengan Gus Usman keduanya baik kendati kalau boleh berharap Aini mau dengan Gus Usman yang cakap dalam ilmu. Nantinya, Gus Usman akan disuruh mukim dan meneruskan dakwahnya dan mengurusi jamaahnya.

Hari berduka akhirnya tiba, Masjid yang tadinya sepi mulai ramai orang yang melayat. Banser mulai berdatangan baik yang berseragam maupun yang berpakaian preman, untuk mengatur dan memandu acara kematian. Gus Usman, Kyai Soleh, Nyai Lasmi dan banyak lagi kolega dan sahabat seperjuangan Kyai Salim mulai berdatangan. Karangan bunga dari seluruh Banom NU se-kabupaten memenuhi jalan menuju rumah Kyai Salim. Sementara itu Sapto dan ayahnya sudah jauh lebih dahulu di belakang mengurusi urusan dapur dan segala keperluan, Sapto dan ayahnya datang sebelum Banser yang terkenal disiplin itu hadir. Semua perlengkapan untuk acara sudah lengkap, tamu berdatangan diiringi dengan tangis dan rasa duka yang mendalam.

Mobil jenasah pun datang, mobil putih dengan logo Lazisnu NU Care ini parkir di depan gerbang rumah Kyai Salim. Warga mulai menyemut mendekat ke mobil jenasah. Banser dengan sigap mengatur masa dan menurunkan jenazah dari dalam mobil. Saat warga mendekat ke mobil jenasah, Nyai Mirah justru lari ke kamar sambil menangis. “Pak ….. Pak ….. Ayooo bangun …. Jenazah Aini sudah datang” seru nyai Mirah dengan tangis. Kyai Salim pun terbangun, namun tidak ada yang bisa ia sampaikan kecuali air mata yang menetes di pipinya.