Antara Islam, Soekarno dan Aku

Tokoh

Aku dan Soekarno
Saat saya masih kecil, setiap ke rumah Mbah pasti melihat lukisan seseorang yang berpeci hitam, berseragam jenderal TNI  berwarna hijau yang terpasang di dabag (dinding yang terbuat dari kayu) lengkap dengan figura klasiknya. Dalam lukisan tersebut tertulis jelas nama “Soekarno” dengan ciri font italic di pojok kiri bawah. Lukisannya berukuran kurang lebih kertas A3 atau 42 cm x 29 cm. Tak hanya di rumah mbah, di rumah orang sepuh (tua) Jawa yang pernah njamani pemerintahan Bung Karno tidak sedikit juga masih banyak yang memasang fotonya di dinding rumahnya.

Kita semua tahu Bung Karno adalah Bapak Proklamator Kemerdekaan (bersama Mohammad Hatta) sekaligus guru bangsa Indonesia. Mungkin ini alasan mengapa orang terdahulu memasang foto Bung Karno di dinding rumahnya bukan lain adalah sebagai bentuk penghormatan sekaligus kecintaanya kepada beliau. 

Banyak sekali yang bisa kita tiru dan kita pelajari dari sosok Bung Karno.  Salah satunya, ialah seorang orator ulung yang bisa membangkitkan semangat nasionalisme rakyat Indonesia. Beliau memiliki gaya kepemimpinan yang sangat populis, bertempramen meledak-ledak, tidak jarang lembut dan menyukai keindahan. Tidak sedikit dari pelajar sekarang ini gaya dalam berorasi pun meniru dari Bung Karno. 

Siapa sangka di balik sosok yang tegas, berpendirian teguh dan nasionalis, sosok Soekarno juga sangat religius. Begitu banyak gagasan-gagasan Soekarno tentang Islam, gagasannya pun unik. 

Awal beliau belajar agama di usia 15 tahun, beliau mengikuti keluarga Cokroaminoto dan masuk satu organisasi Islam dan sosial bernama Muhammadiyah karena letak gedung pertemuan yang cukup dekat dengan rumahnya yang biasa digunakan oleh Cokroaminoto menyampaikan pelajaran agamanya. Setiap jam delapan malam bahkan sampai larut sosok Soekarno sering mendengarkan dengan penuh perhatian apa yang disampaikan oleh Cokroaminoto.

Tidak hanya itu, kematangan dalam beragama beliau juga dapatkan ketika berada di dalam penjara. Di penjara beliau sering membaca buku, Al Qur’an , dan menelaah hadist. Dengan pengetahuannya  dalam  beragama tidak kemudian berfikir sekuler. Namun dengan bekal ilmu agama yang beliau dapatkan dalam menanggapi perbedaan madzhab dan aliran beliau sangat bijaksana, bahkan dalam berbeda agama pun beliau sangat menghormati betul. Berikut adalah kutipan pidato yang beliau sampaikan dalam sidang BPUPKI, pada 1 Juni 1945.

“Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan, Tuhannya sendiri. Yang Kristen menyembah Tuhan menurut petunjuk Isa a- Masih, yang Islam bertuhan menurut petunjuk Nabi Muhammad SAW, orang Budha menjalankan ibadahnya menurut kitab yang ada padanya. Tetapi marilah kita semua bertuhan. Hendaklah Negara Indonesiaialah Negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah tuhannya dengan cara yang leluasa. Segenap rakyat hendaknya bertuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada ‘egoisme-agama’. Dan hendaknya Negara Indonesia satu Negara yang bertuhan. Marilah kita amalkan, jalannya agama, baik Islam maupun Kristen dengan cara yang berkeadaban. Apakah cara yang berkeadaban itu? Ialah hormat-menghormati satu sama lain.”

Begitu jelas apa yang disampaikan oleh bung Karno bahwa buah dari agama ialah saling toleransi, karena inti dari sebuah agama adalah kasih sayang, perdamaian yang tidak menimbulkan perpecahan apalagi permusuhan. Hal senada juga disampaikan oleh Gus Dur “Semakin tinggi ilmu seseorang, maka semakin besar toleransinya”. Jadi, bisa dipastikan bahwa seseorang yang bersikap intoleransi sesungguhnya masih sangat perlu belajar banyak dari tokoh-tokoh seperti Gus Dur, Soekarno, dll. 

Sebagai bangsa yang terdiri dari berbagai suku, ras, golongan dan agama, masyarakat Indonesia seharusnya tidak bisa hidup tanpa adanya rasa toleransi yang tinggi. Saling menghargai antar sesama dan menerima perbedaan adalah kunci terjaganya kemajemukan dalam sebuah bangsa.

Jadi, hubungannya apa antara Islam, Soekarno dan Aku? Jawabannya adalah saya termasuk yang mengidolakan  dari sosok Bung Karno dari pemikirannya (bukan percintaanya), karena mustahil bisa bertemu langsung kan, hehe. Namun saya sudah sangat bersyukur bisa belajar sedikit belajar dari gagasan-gagasan yang diwariskan oleh beliau. Maka, saya pun berinisiatif untuk bertemu beliau melalui Photoshop. Alhasil, Photoshop yang baik hati pun berkenan memfasilitasi pertemuan saya dengan bung Karno dalam satu forum di ruangan yang cukup luas bernuansa kolonial. Sekali lagi saya sampaikan bahwa yang saya lakukakan ini semata-mata karena mengidolakan beliau, bukan bentuk yang lain. Mohon jangan di bully..hehe.
Wallahu a’lam.

Salam Telungpuluh!

Baca juga: